Ini isi dari catatan harianku, kurasa memang tidak penting. Tapi lagi lagi ini tentang perasaan, tiba-tiba saja aku ingin melakukannya.
Ini seperti mengulang masa lalu, mengulang kembali masa-masa lampau itu, kemudian dirangkai dalam kalimat. Keinginan itu muncul, mendebatku dengan perangai kasar. Sepertinya di kepalaku ada setumpuk kata, kalimat, bait, tapi berserakan, berantakan, sempurna terberai dalam folder-folder memoriku. Kau tahu di kepalaku terjadi tabrakan hebat, haha, antara bayang masa lalu dan harapan masa depan, antara kegagalan dan antusias untuk berhasil, antara tangis dan cengar cengir kebahagiaan. Tiba-tiba saja ada kereta kecil yang melintas dipikiranku,kereta yang bertuliskan IKHLAS, aku tidak mengerti kenapa kata itu yang muncul. Heii, selama ini apakah aku pernah belajar Ikhlas? Eh, maksudku mempelajari Ikhlas seperti kita belajar membaca, seperti dulu waktu kita diajar menulis huruf demi huruf, kata demi kata, sampai akhirnya lihai menulis puisi untuk ibu, berkirim surat untuk teman sebangku. Haha, spontan saja aku nyegir lebar, entah apanya yang lucu. Yang kupikirkan sekarang kenapa tidak ada saja orang dengan penuh ikhlas membuka kursus Ikhlas, atau sekalian membuka tempat bimbingan belajar Ikhlas? Aku rasa itu ide yang keren, pasti orang-orang akan berdatangan mendaftar ikut kursus atau bimbingan, termasuk aku, mungkin saja aku akan jadi pendaftar pertama. Sungguh aku banyak tidak mengerti tentang ikhlas itu, mudah saja mengatakan, "Sudah ikhlaskan saja!" tapi kurasa ada hal yang sangat sulit dari Ikhlas. Mungkin kau sependapat denganku, tapi mungkin saja kau berteriak kencang menantangku ketika membaca tulisan ini. :) tersenyumlah, mungkin itu cara termudah untuk memulai belajar ikhlas. :)
Minggu, 13 April 2014
Catatan HarianKu 28 Maret 2014
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar