Minggu, 31 Agustus 2014

BJ_

Ternyata hari itu aku benar-benar bisa melihatnya secara langsung, dengan sepasang bola mata yang berusaha menyelinap di antara ribuan kepala, Ya Allah aku bisa menangkap beberapa senyum kecilnya.
Tidak mudah, tapi mungkin juga terlalu jika kukatakan ini bertarung nyawa. Aku diapit tubuh-tubuh kekar yang berusaha menerobos pintu terakhir, lalu? Lalu aku terjepit di antara pintu besi, tidak sempat lagi merintih, aku ingin masuk, harapku. Tas di lenganku terasa berat, nafas mulai lelah, eh, aku sudah ada di dalam. Tapi perjuangan belum usai, harus menunggu kebaikan hati bapak-bapak ini. Aku mulai cemas, jarum jam tidak bisa dihentikan, bahkan kurasa semakin cepat saja. Tidak ada yang bisa kulihat dari sini, hanya sorot lampu yang membuat mata berkunang-kunang. Bertahanlah!!! Aku berusaha menyemangati diri sendiri. Bertahanlah, bertahanlah!!! Kuulang-ulang kata itu seperti mantra.
Sungguh, aku sangat lelah. Tapi aku belum menyerah, peluh sana-sini mulai terasa mengalir di tubuhku, bertahanlah!!!
Kutarik nafas panjang ketika ada celah yang mulai terbuka, "perempuan dulu, perempuan dulu." suara itu bisa kudengar, bapak itu mulai membuka jalan untuk kami, tapi yang perempuan dulu, semangatku terasa pulih seketika. Ya Allah, sudah sangat penuh. Kutelusuri sampai sudut atas, tidak ada tempat lagi. Berdiri saja, pikirku, itu tidak masalah. Hmmm, aku tercengang, oh begini, oh begitu, aku berdiskusi singkat dengan diriku sendiri.
Subhanallah, beliau yang kutunggu muncul dari ruang tunggu, pakaian rapi dan peci hitam sempurna melekat ditubuh mungilnya. Itu dia, itu dia. Aku melihatnya, aku berada di ruangan yang sama dengannya, kira-kira berjarak 15 meter dari tempatnya duduk, sementara aku ada disini berdiri memandanginya.
:D :) :( :'( :')
Astagfirullah, seharusnya aku tidak di ruangan ini. Pikiran itu mulai berputar dan bersalto ria di kepalaku. Aku terlalu egois dan amat tega. Kalaupun diberi aku setidaknya bisa menolak, kalaupun dipaksa setidaknya aku bisa lebih ngotot. Ada hal yang baru kusadari selama beberapa jam berada di ruangan ini. Andai ini tiket ke surga, maka kamu telah memberikan itu untukku. Kamu hanya punya satu, dan kamu tidak bisa ikut bersamaku. Seharusnya tidak begitu, kamu yang seharusnya disini. Bukan aku.
Aku baru menyadari, kamu sangat baik, kamu??? Aku menyadari, ini tidak akan pernah bisa kubayar, tidak akan pernah. Ini mahal, mahal yang tidak pernah bisa ternilai, tidak bisa kuhitung, apalagi kurupiahkan, itu sangat tidak bisa. Kamu menjadi jalan sebuah mimpi. Kamu menjadi??? Kamu telah menjadi dirimu yang paling baik. Maafkan aku. Sungguh maafkan aku.
Terimakasih sudah rela untuk ini, selembar tiket untuk melihat mimpi itu nyata. So, thank you so much, i can't pay for your sacrifice...

Kamis, 10 Juli 2014

Menangis Kembali

Sebenarnya bukan karena sudah lenyap rasa sakit, mereka berhenti menangis.
Sebenarnya bukan karena sudah hilang rasa duka, mereka berhenti menangis.
Sebenarnya bukan karena sudah usai kisah piluh, mereka berhenti menangis.
Meski tangis tidak riuh terdengar, sejarah terus tergores dengan tinta merah, di hamparan tanah suci yang mereka jaga.
Mereka sedang mengumpulkan air mata yang mulai mengering.
Mereka sedang menatap lumat-lumat tanah mereka yang memerah.

Sungguh, ini bukanlah sesuatu yang dinantikan, namun ini yang pasti terjadi, mereka menangis kembali.

Di sinilah, seolah tak ada harga untuk sebuah nyawa.
Di sinilah, seolah tak ada belas kasih untuk para ibu.
Di sinilah, seolah tak ada cinta untuk pejuang kecil.
Di sinilah, seolah tak ada kata damai.

Riuh letupan senjata menjadi iringan wajib untuk hari mereka.
Kiriman bola api menjadi pemandangan biasa untuk mereka, bahkan hujan roket sekalipun.
Mulai dari amunisi yang menembus batok kepala, pecahan amunisi yang merobohkan tulang, hingga amunisi yang siap merenggut ratusan nyawa.
Sedikit pun langkah mereka tak mengayuh mundur, badan mereka gagah tepasang menyabut butiran biji pencabut nyawa, demi tanah suci yang mereka jaga.

Mereka kembali menangis, menatap tubuh yang terbaring kaku di tanah mereka.
Mereka kembali menangis, menyaksikan darah yang terus mengalir di tanah mereka.
Mereka kembali menangis, untuk melepas syuhada tercinta tanah mereka.
Di bulan yang suci, tanah suci yang mereka jaga justru diserang dengan amat kejam.

Mereka menangis kembali, dan inilah air mata Palestina. 

Minggu, 15 Juni 2014

Caraku Merindu

Bagaimana caranya merindu?
Adakah cara merindu yang ampuh?
Bagaimana caramu merindu?
Adakah rumus sakti yang akan kau ajarkan padaku?
Bagaimana caraku merindu?
Akankah kutemukan cara merindu itu?

Tidak tahu, yang kulakukan, hanya sekedar saja. Tapi itulah caraku merindu.

Akan kumulai dari pagi, saat sahutan ayam silih berganti. Aku akan terbangun dengan rindu, dan akan kusampaikan pada embun, yang kutahu sebentar lagi embun itu akan menguap, dan kubiarkan embun itu pergi membawa salam rinduku. Begitulah caraku merindu.

Ketika sekumpulan burung mulai terbang mencari makan, akan kutitip pesan rinduku, yang kutahu burung itu akan melintas lautan, dan akan kubiarkan burung itu berkicau mengulang-ulang pesan dariku. Begitulah caraku merindu.

Ketika daun-daun mulai gugur, akan kutulis rasa rinduku di lembar daun itu. Yang kutahu daun itu akan menari bersama angin, menari bersama rasa rinduku dan pergi jauh tanpa batas. Begitulah caraku merindu.

Saat senja mulai menggelayut manja, akan kulukis wujud rinduku. Yang kutahu, senja itu akan menghilang di kaki bukit, menenggelamkan warna merah jingganya bersama rinduku. Dan menghilang dalam tatapan. Begitulah caraku merindu.

Saat bulan datang bersama bintang, akan segera kurangkai rindu dan kuletakkan tepat di sisi  bulan, di antara bintang. Pasti indah dilangit malam. Yang tahu, aku selalu menatap langit yang sama dengannya. Begitulah caraku merindu.

Saat mata mulai sesekali terpejam, aku sering menolak, masih banyak rindu, rindu yang memang sepertinya tidak akan habis. Ok,  akan kulipat rindu ini, kuselipkan tepat di bawah bantal. Yang aku tahu aku sangat ingin memimpikanmu malam ini. Begitulah caraku merindu.

Begitulah di dalam setiap doa, aku menemuimu, lewat doa aku menyapamu, melalui doa aku memelukmu. Kau tidak merasakannya? Kau bohong.
Bahkan Kau mengeringkan air mataku, Kau yang bilang padaku. Katamu, Kau selalu menerima salam rinduku dari embun saat kau bangun dari tidurmu.

Katamu, Kau selalu menerima pesan rinduku dari kumpulan burung yang melintas melewatimu.

Katamu, Kau selalu menemukan surat rinduku di atas lembaran daun yang menari menghampirimu.

Katamu, Kau selalu melihat lukisan rinduku saat senja berpamitan padamu.

Katamu, Kau selalu menatap rangkaian rinduku di hamparan langit malam.

Aku lupa, ternyata tadi Aku tertidur lelap, dan ternyata itu hanya mimpi.
Begitulah caraku merindu.
Meski rindu ini tak terbalas, tetap saja, begitulah caraku merindu.

Sabtu, 14 Juni 2014

Suatu Tempat

Aku suka sekali ke suatu tempat. Tempat yang jauh dari kegemerlapan.
Aku suka sekali berkunjung ke suatu tempat. Tempat yang  penuh kedamaian.
Aku suka sekali berada di suatu tempat. Tempat yang disana kulihat mereka dengan wajah yang bersinar.
Aku suka sekali tempat itu. Tempat orang-orang mencari kedamaian.
Tempat orang-orang menemukan ketenangan. Tempat orang-orang mewujudkan rasa syukur.
Di tempat itu pula, aku malu, sangat malu, melihat mereka yang begitu akrab dengan pemilik tempat itu. Sangat iri dengan mereka yang begitu paham seluk beluk tempat itu. Mereka begitu tahu bagaimana harus bersikap di tempat itu. Wajahnya damai, bola matanya jernih, napasnya tenang, dan hatinya selalu penuh syukur.
Aku suka sekali berkunjung di tempat ini. Karena di tempat inilah Aku menyadari, Aku ini begitu jauh dari pemilik tempat ini. Aku selalu merasa cukup, selalu hitung-hitungan dengan apa yang telah kulakukan, dan di tempat inilah baru kusadari, yang Aku lakukan tidak seberapa, mungkin jauh dari cukup, atau nyata-nyatanya teramat kurang.
Mata ini mulai nanar, dada ini mulai terasa penuh, napas ini mulai sesak, dan sekarang Aku terisak. Tidak bisa tertahan, aku suka sekali dengan tempat ini, tapi jangan sampai lupa, ternyata Aku rindu sekali dengan pemilik tempat ini. Ya Allah.
Iya, tempat itu adalah rumah Allah, pemilik seluruh jiwa dan ragaku.
Di rumah Allah, hati ini tersiram cahaya.
Ya Allah, berharap Kau pilihkan dia yang berasal dari tempat ini. Ehhh, aamiinkan saja. Hehe.  Sosok pemilik tulang rusuk itu, berasal dari sini. Dia yang sering berkunjung di rumah-Mu. Dia yang menjaga rumah-Mu, dia yang mencintai-Mu. Pilihkanlah yang terbaik dari sisi-Mu.
Aamiin.

Minggu, 08 Juni 2014

Pahamilah!

Mungkin Anda pernah berkunjung ke pusat perbelanjaan. Kurasa iya.

Ssssssttt...
Eh, ternyata, sesuatu yang diobral itu belum tentu dikerumuni orang loh.
Eh, ternyata, barang yang diskon besar-besaran itu belum tentu banyak yang melirik loh.
Eh, ternyata, pun barang-barang di dalam kotak kaca dengan harga selangit, biasa aja, orang hanya lewat, mondar-mandir, mereka tidak tertarik. Yah begitu...
Lalu kok bisa gitu yah?
Banyak orang (mungkin saja Anda) berpemahaman seperti ini, sesuatu yang harganya murah itu yah pasti barang murahan. Lalu sesuatu yang kinclong dengan harga mencekik leher, katanya itu mahal, dan itulah yang keren.
Jika itu barang murahan, ogah banget untuk berebut. Jika barang mahal, wah, sekk sekk, minggir-minggir, mau beli tapi tidak punya duit. Lah, sama saja, enggan mendekat, enggan melirik.

Aduh, pemahamanmu salah kawan. Pahamilah, sesungguhnya sesuatu yang WAH itu adalah sesuatu yang tak "berharga", tidak berdiskon, tidak pula diobral.
Mahal sesungguhnya itu bukan sesuatu yang harganya mencakar langit.
Mahal sesungguhnya itu bukan sesuatu yang bertengger dilemari kaca anti pembobolan.
Mahal sesungguhnya itu adalah sesuatu yang tidak terbeli dengan UANG. Jika ada sesuatu yang katanya harga selangit, tapi bisa dibeli dengan UANG, itu tidak mahal, toh ada yang mampu membayarnya, tentu bayar pake duit.
Mahal sesungguhnya itu adalah sesuatu yang tidak tergadai dengan apapun.
Pahamilah, mahal sesungguhnya itu bukan masalah harga. Sangat tidak berkaitan dengan Rupiah, Dollar, dsb.
Pahamilah, mahal sesungguhnya itu adalah sesuatu yang tidak bisa terbayar dengan UANG, tidak tergadai oleh apapun, tidak bisa ditawar-tawar, apalagi menunggu diskon hari raya. Ohh tidak, jika hari ini mahal, sampai seterusnya akan mahal, bahkan jadi lebih mahal, soalnya tidak pakai istilah ketinggalan zaman, yah itulah mahal sesungguhnya.
Pahamilah!!! :)

Pahamilah!

Mungkin Anda pernah berkunjung ke pusat perbelanjaan. Kurasa iya.

Ssssssttt...
Eh, ternyata, sesuatu yang diobral itu belum tentu dikerumuni orang loh.
Eh, ternyata, barang yang diskon besar-besaran itu belum tentu banyak yang melirik loh.
Eh, ternyata, pun barang-barang di dalam kotak kaca dengan harga selangit, biasa aja, orang hanya lewat, mondar-mandir, mereka tidak tertarik. Yah begitu...
Lalu kok bisa gitu yah?
Banyak orang (mungkin saja Anda) berpemahaman seperti ini, sesuatu yang harganya murah itu yah pasti barang murahan. Lalu sesuatu yang kinclong dengan harga mencekik leher, katanya itu mahal, dan itulah yang keren.
Jika itu barang murahan, ogah banget untuk berebut. Jika barang mahal, wah, sekk sekk, minggir-minggir, mau beli tapi tidak punya duit. Lah, sama saja, enggan mendekat, enggan melirik.

Aduh, pemahamanmu salah kawan. Pahamilah, sesungguhnya sesuatu yang WAH itu adalah sesuatu yang tak "berharga", tidak berdiskon, tidak pula diobral.
Mahal sesungguhnya itu bukan sesuatu yang harganya mencakar langit.
Mahal sesungguhnya itu bukan sesuatu yang bertengger dilemari kaca anti pembobolan.
Mahal sesungguhnya itu adalah sesuatu yang tidak terbeli dengan UANG. Jika ada sesuatu yang katanya harga selangit, tapi bisa dibeli dengan UANG, itu tidak mahal, toh ada yang mampu membayarnya, tentu bayar pake duit.
Mahal sesungguhnya itu adalah sesuatu yang tidak tergadai dengan apapun.
Pahamilah, mahal sesungguhnya itu bukan masalah harga. Sangat tidak berkaitan dengan Rupiah, Dollar, dsb.
Pahamilah, mahal sesungguhnya itu adalah sesuatu yang tidak bisa terbayar dengan UANG, tidak tergadai oleh apapun, tidak bisa ditawar-tawar, apalagi menunggu diskon hari raya. Ohh tidak, jika hari ini mahal, sampai seterusnya akan mahal, bahkan jadi lebih mahal, soalnya tidak pakai istilah ketinggalan zaman, yah itulah mahal sesungguhnya.
Pahamilah!!! :)

Sabtu, 07 Juni 2014

Hal dan Segalanya

Jika dulu erat terikat dengan simpuh, lalu kenapa sekarang terpisah. Jika dulu kuat saling menggenggam, lalu kenapa sekarang saling melepaskan. Aku paham keadaan tak lagi sama.

Jika dulu seperti piring dan gelas, kini tidak lagi, gelas pecah tersisa puing. Jika dulu seperti baju dan celana, kini tidak lagi, lebih memilih kedinginan tak berbalut kain. Aku paham keadaan tak lagi sama.

Dulu, setiap ingatan adalah kebahagiaan. Tapi sekarang, sejengkal ingatan adalah kesakitan. Dulu, setiap ucapan adalah kasih. Tapi sekarang, satu kata adalah kebohongan. Aku paham keadaan tak lagi sama.

Aku paham keadaan tak lagi sama, tapi apa Kau paham ada hal yang  masih sama.

Hari ini, kata TIDAK bisa berarti IYA. Jika hari ini adalah hari kebalikan. Segalanya tidak lagi pada ruangnya, tidak lagi pada waktunya, tidak lagi pada tempatnya. Mungkin segalanya itu akan merasakan kebebasan meski dalam kebohongan.

Aku paham keadaan tak lagi sama. Dan sekarang Kau harus paham tentang hal yang masih sama. Jika, sekarang diisinkan berlaku hari kebalikan itu, segalanya akan berubah. Tapi ada hal yang harus Kau tahu diluar segalanya itu.

Yang ini bukan dari segala di atas. Aku paham kondisi tak lagi sama. Tapi, Kau harus paham, ada hal yang tak berubah, meski berlaku hari kebalikan. Karena hal itu bukan bagian dari segala yang bisa berubah.

Sekarang Kau harus paham. Keadaan belum tentu merubah perasaan. Kau harus paham, perasaan tidak berubah secepat keadaan.
Aku paham keadaan tak lagi sama, tapi perasaan itu masih sama. Dan sekarang Kau paham hal yang masih sama itu adalah perasaan.