Sabtu, 14 Juni 2014

Suatu Tempat

Aku suka sekali ke suatu tempat. Tempat yang jauh dari kegemerlapan.
Aku suka sekali berkunjung ke suatu tempat. Tempat yang  penuh kedamaian.
Aku suka sekali berada di suatu tempat. Tempat yang disana kulihat mereka dengan wajah yang bersinar.
Aku suka sekali tempat itu. Tempat orang-orang mencari kedamaian.
Tempat orang-orang menemukan ketenangan. Tempat orang-orang mewujudkan rasa syukur.
Di tempat itu pula, aku malu, sangat malu, melihat mereka yang begitu akrab dengan pemilik tempat itu. Sangat iri dengan mereka yang begitu paham seluk beluk tempat itu. Mereka begitu tahu bagaimana harus bersikap di tempat itu. Wajahnya damai, bola matanya jernih, napasnya tenang, dan hatinya selalu penuh syukur.
Aku suka sekali berkunjung di tempat ini. Karena di tempat inilah Aku menyadari, Aku ini begitu jauh dari pemilik tempat ini. Aku selalu merasa cukup, selalu hitung-hitungan dengan apa yang telah kulakukan, dan di tempat inilah baru kusadari, yang Aku lakukan tidak seberapa, mungkin jauh dari cukup, atau nyata-nyatanya teramat kurang.
Mata ini mulai nanar, dada ini mulai terasa penuh, napas ini mulai sesak, dan sekarang Aku terisak. Tidak bisa tertahan, aku suka sekali dengan tempat ini, tapi jangan sampai lupa, ternyata Aku rindu sekali dengan pemilik tempat ini. Ya Allah.
Iya, tempat itu adalah rumah Allah, pemilik seluruh jiwa dan ragaku.
Di rumah Allah, hati ini tersiram cahaya.
Ya Allah, berharap Kau pilihkan dia yang berasal dari tempat ini. Ehhh, aamiinkan saja. Hehe.  Sosok pemilik tulang rusuk itu, berasal dari sini. Dia yang sering berkunjung di rumah-Mu. Dia yang menjaga rumah-Mu, dia yang mencintai-Mu. Pilihkanlah yang terbaik dari sisi-Mu.
Aamiin.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar