Sabtu, 07 Juni 2014

Jurang dan Tameng

Jurang dan tameng, dua hal yang tak sama, tapi sering tak mampu dibedakan.
Jurang dan tameng, dua hal yang jelas berbeda, tapi hati sering tak sepaham dengan mata.
Jurang dan tameng, dua hal yang seharusnya nyata, tapi kenapa sering bias dan tak ada kejelasan.
Semua paham, jurang dan tameng bukan kabut, lalu kenapa keduanya membuat buram.
Semua paham, jurang dan tameng bukan malam, lalu kenapa keduanya bagai gelap yang mencekam.
Semua paham, jurang dan tameng bukan goa, lalu kenapa keduanya sering memantulkan tanya ini berulang-ulang.
Mungkin karena ada Kau, Kau ada di balik jurang itu, Kau ada di balik tameng itu. Lalu apa Kau adalah kabut? Apa Kau adalah malam? Apa Kau adalah goa? Jika bukan, kenapa Kau membuat buram sepanjang mata memandang, jika bukan kenapa Kau padamkan semua penerangan, jika bukan kenapa Kau lontarkan kembali setiap tanya yang mestinya Kau jawab.
Jika benar Kau yang ada di balik jurang, jika benar Kau yang ada di balik tameng. Keluarlah, beri kejelasan, agar tak lagi ada tanya. Jika benar Kau ada di sana. Muncullah, beri kepastian, agar tak lagi ada penantian.
Jika benar Kau ada di sana, berbaliklah, isinkan sosokmu nyata, agar tak lagi buram, tak lagi gelap, dan tak perlu lagi mengulang tanya.
Sebenarnya dimana Kau, seharusnya Kau hanya satu, tidak mungkin Kau ada di balik jurang, lalu, juga Kau di balik tameng. Tidak mungkin Kau mengisi dua tempat berbeda dalam helai waktu yang sama.
Dan Kau terus membangkang, mengacuhkan semua celotehku. Apa Kau tuli? Apa Kau Bisu? Apa Kau buta? Apakah Kau yang di balik sana bukan "Kau" yang Aku maksud sebenarnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar