Ternyata hari itu aku benar-benar bisa melihatnya secara langsung, dengan sepasang bola mata yang berusaha menyelinap di antara ribuan kepala, Ya Allah aku bisa menangkap beberapa senyum kecilnya.
Tidak mudah, tapi mungkin juga terlalu jika kukatakan ini bertarung nyawa. Aku diapit tubuh-tubuh kekar yang berusaha menerobos pintu terakhir, lalu? Lalu aku terjepit di antara pintu besi, tidak sempat lagi merintih, aku ingin masuk, harapku. Tas di lenganku terasa berat, nafas mulai lelah, eh, aku sudah ada di dalam. Tapi perjuangan belum usai, harus menunggu kebaikan hati bapak-bapak ini. Aku mulai cemas, jarum jam tidak bisa dihentikan, bahkan kurasa semakin cepat saja. Tidak ada yang bisa kulihat dari sini, hanya sorot lampu yang membuat mata berkunang-kunang. Bertahanlah!!! Aku berusaha menyemangati diri sendiri. Bertahanlah, bertahanlah!!! Kuulang-ulang kata itu seperti mantra.
Sungguh, aku sangat lelah. Tapi aku belum menyerah, peluh sana-sini mulai terasa mengalir di tubuhku, bertahanlah!!!
Kutarik nafas panjang ketika ada celah yang mulai terbuka, "perempuan dulu, perempuan dulu." suara itu bisa kudengar, bapak itu mulai membuka jalan untuk kami, tapi yang perempuan dulu, semangatku terasa pulih seketika. Ya Allah, sudah sangat penuh. Kutelusuri sampai sudut atas, tidak ada tempat lagi. Berdiri saja, pikirku, itu tidak masalah. Hmmm, aku tercengang, oh begini, oh begitu, aku berdiskusi singkat dengan diriku sendiri.
Subhanallah, beliau yang kutunggu muncul dari ruang tunggu, pakaian rapi dan peci hitam sempurna melekat ditubuh mungilnya. Itu dia, itu dia. Aku melihatnya, aku berada di ruangan yang sama dengannya, kira-kira berjarak 15 meter dari tempatnya duduk, sementara aku ada disini berdiri memandanginya.
:D :) :( :'( :')
Astagfirullah, seharusnya aku tidak di ruangan ini. Pikiran itu mulai berputar dan bersalto ria di kepalaku. Aku terlalu egois dan amat tega. Kalaupun diberi aku setidaknya bisa menolak, kalaupun dipaksa setidaknya aku bisa lebih ngotot. Ada hal yang baru kusadari selama beberapa jam berada di ruangan ini. Andai ini tiket ke surga, maka kamu telah memberikan itu untukku. Kamu hanya punya satu, dan kamu tidak bisa ikut bersamaku. Seharusnya tidak begitu, kamu yang seharusnya disini. Bukan aku.
Aku baru menyadari, kamu sangat baik, kamu??? Aku menyadari, ini tidak akan pernah bisa kubayar, tidak akan pernah. Ini mahal, mahal yang tidak pernah bisa ternilai, tidak bisa kuhitung, apalagi kurupiahkan, itu sangat tidak bisa. Kamu menjadi jalan sebuah mimpi. Kamu menjadi??? Kamu telah menjadi dirimu yang paling baik. Maafkan aku. Sungguh maafkan aku.
Terimakasih sudah rela untuk ini, selembar tiket untuk melihat mimpi itu nyata. So, thank you so much, i can't pay for your sacrifice...
Minggu, 31 Agustus 2014
BJ_
Kamis, 10 Juli 2014
Menangis Kembali
Sebenarnya bukan karena sudah lenyap rasa sakit, mereka berhenti menangis.
Sebenarnya bukan karena sudah hilang rasa duka, mereka berhenti menangis.
Sebenarnya bukan karena sudah usai kisah piluh, mereka berhenti menangis.
Meski tangis tidak riuh terdengar, sejarah terus tergores dengan tinta merah, di hamparan tanah suci yang mereka jaga.
Mereka sedang mengumpulkan air mata yang mulai mengering.
Mereka sedang menatap lumat-lumat tanah mereka yang memerah.
Sungguh, ini bukanlah sesuatu yang dinantikan, namun ini yang pasti terjadi, mereka menangis kembali.
Di sinilah, seolah tak ada harga untuk sebuah nyawa.
Di sinilah, seolah tak ada belas kasih untuk para ibu.
Di sinilah, seolah tak ada cinta untuk pejuang kecil.
Di sinilah, seolah tak ada kata damai.
Riuh letupan senjata menjadi iringan wajib untuk hari mereka.
Kiriman bola api menjadi pemandangan biasa untuk mereka, bahkan hujan roket sekalipun.
Mulai dari amunisi yang menembus batok kepala, pecahan amunisi yang merobohkan tulang, hingga amunisi yang siap merenggut ratusan nyawa.
Sedikit pun langkah mereka tak mengayuh mundur, badan mereka gagah tepasang menyabut butiran biji pencabut nyawa, demi tanah suci yang mereka jaga.
Mereka kembali menangis, menatap tubuh yang terbaring kaku di tanah mereka.
Mereka kembali menangis, menyaksikan darah yang terus mengalir di tanah mereka.
Mereka kembali menangis, untuk melepas syuhada tercinta tanah mereka.
Di bulan yang suci, tanah suci yang mereka jaga justru diserang dengan amat kejam.
Mereka menangis kembali, dan inilah air mata Palestina.
Minggu, 15 Juni 2014
Caraku Merindu
Bagaimana caranya merindu?
Adakah cara merindu yang ampuh?
Bagaimana caramu merindu?
Adakah rumus sakti yang akan kau ajarkan padaku?
Bagaimana caraku merindu?
Akankah kutemukan cara merindu itu?
Tidak tahu, yang kulakukan, hanya sekedar saja. Tapi itulah caraku merindu.
Akan kumulai dari pagi, saat sahutan ayam silih berganti. Aku akan terbangun dengan rindu, dan akan kusampaikan pada embun, yang kutahu sebentar lagi embun itu akan menguap, dan kubiarkan embun itu pergi membawa salam rinduku. Begitulah caraku merindu.
Ketika sekumpulan burung mulai terbang mencari makan, akan kutitip pesan rinduku, yang kutahu burung itu akan melintas lautan, dan akan kubiarkan burung itu berkicau mengulang-ulang pesan dariku. Begitulah caraku merindu.
Ketika daun-daun mulai gugur, akan kutulis rasa rinduku di lembar daun itu. Yang kutahu daun itu akan menari bersama angin, menari bersama rasa rinduku dan pergi jauh tanpa batas. Begitulah caraku merindu.
Saat senja mulai menggelayut manja, akan kulukis wujud rinduku. Yang kutahu, senja itu akan menghilang di kaki bukit, menenggelamkan warna merah jingganya bersama rinduku. Dan menghilang dalam tatapan. Begitulah caraku merindu.
Saat bulan datang bersama bintang, akan segera kurangkai rindu dan kuletakkan tepat di sisi bulan, di antara bintang. Pasti indah dilangit malam. Yang tahu, aku selalu menatap langit yang sama dengannya. Begitulah caraku merindu.
Saat mata mulai sesekali terpejam, aku sering menolak, masih banyak rindu, rindu yang memang sepertinya tidak akan habis. Ok, akan kulipat rindu ini, kuselipkan tepat di bawah bantal. Yang aku tahu aku sangat ingin memimpikanmu malam ini. Begitulah caraku merindu.
Begitulah di dalam setiap doa, aku menemuimu, lewat doa aku menyapamu, melalui doa aku memelukmu. Kau tidak merasakannya? Kau bohong.
Bahkan Kau mengeringkan air mataku, Kau yang bilang padaku. Katamu, Kau selalu menerima salam rinduku dari embun saat kau bangun dari tidurmu.
Katamu, Kau selalu menerima pesan rinduku dari kumpulan burung yang melintas melewatimu.
Katamu, Kau selalu menemukan surat rinduku di atas lembaran daun yang menari menghampirimu.
Katamu, Kau selalu melihat lukisan rinduku saat senja berpamitan padamu.
Katamu, Kau selalu menatap rangkaian rinduku di hamparan langit malam.
Aku lupa, ternyata tadi Aku tertidur lelap, dan ternyata itu hanya mimpi.
Begitulah caraku merindu.
Meski rindu ini tak terbalas, tetap saja, begitulah caraku merindu.
Sabtu, 14 Juni 2014
Suatu Tempat
Aku suka sekali ke suatu tempat. Tempat yang jauh dari kegemerlapan.
Aku suka sekali berkunjung ke suatu tempat. Tempat yang penuh kedamaian.
Aku suka sekali berada di suatu tempat. Tempat yang disana kulihat mereka dengan wajah yang bersinar.
Aku suka sekali tempat itu. Tempat orang-orang mencari kedamaian.
Tempat orang-orang menemukan ketenangan. Tempat orang-orang mewujudkan rasa syukur.
Di tempat itu pula, aku malu, sangat malu, melihat mereka yang begitu akrab dengan pemilik tempat itu. Sangat iri dengan mereka yang begitu paham seluk beluk tempat itu. Mereka begitu tahu bagaimana harus bersikap di tempat itu. Wajahnya damai, bola matanya jernih, napasnya tenang, dan hatinya selalu penuh syukur.
Aku suka sekali berkunjung di tempat ini. Karena di tempat inilah Aku menyadari, Aku ini begitu jauh dari pemilik tempat ini. Aku selalu merasa cukup, selalu hitung-hitungan dengan apa yang telah kulakukan, dan di tempat inilah baru kusadari, yang Aku lakukan tidak seberapa, mungkin jauh dari cukup, atau nyata-nyatanya teramat kurang.
Mata ini mulai nanar, dada ini mulai terasa penuh, napas ini mulai sesak, dan sekarang Aku terisak. Tidak bisa tertahan, aku suka sekali dengan tempat ini, tapi jangan sampai lupa, ternyata Aku rindu sekali dengan pemilik tempat ini. Ya Allah.
Iya, tempat itu adalah rumah Allah, pemilik seluruh jiwa dan ragaku.
Di rumah Allah, hati ini tersiram cahaya.
Ya Allah, berharap Kau pilihkan dia yang berasal dari tempat ini. Ehhh, aamiinkan saja. Hehe. Sosok pemilik tulang rusuk itu, berasal dari sini. Dia yang sering berkunjung di rumah-Mu. Dia yang menjaga rumah-Mu, dia yang mencintai-Mu. Pilihkanlah yang terbaik dari sisi-Mu.
Aamiin.
Minggu, 08 Juni 2014
Pahamilah!
Mungkin Anda pernah berkunjung ke pusat perbelanjaan. Kurasa iya.
Ssssssttt...
Eh, ternyata, sesuatu yang diobral itu belum tentu dikerumuni orang loh.
Eh, ternyata, barang yang diskon besar-besaran itu belum tentu banyak yang melirik loh.
Eh, ternyata, pun barang-barang di dalam kotak kaca dengan harga selangit, biasa aja, orang hanya lewat, mondar-mandir, mereka tidak tertarik. Yah begitu...
Lalu kok bisa gitu yah?
Banyak orang (mungkin saja Anda) berpemahaman seperti ini, sesuatu yang harganya murah itu yah pasti barang murahan. Lalu sesuatu yang kinclong dengan harga mencekik leher, katanya itu mahal, dan itulah yang keren.
Jika itu barang murahan, ogah banget untuk berebut. Jika barang mahal, wah, sekk sekk, minggir-minggir, mau beli tapi tidak punya duit. Lah, sama saja, enggan mendekat, enggan melirik.
Aduh, pemahamanmu salah kawan. Pahamilah, sesungguhnya sesuatu yang WAH itu adalah sesuatu yang tak "berharga", tidak berdiskon, tidak pula diobral.
Mahal sesungguhnya itu bukan sesuatu yang harganya mencakar langit.
Mahal sesungguhnya itu bukan sesuatu yang bertengger dilemari kaca anti pembobolan.
Mahal sesungguhnya itu adalah sesuatu yang tidak terbeli dengan UANG. Jika ada sesuatu yang katanya harga selangit, tapi bisa dibeli dengan UANG, itu tidak mahal, toh ada yang mampu membayarnya, tentu bayar pake duit.
Mahal sesungguhnya itu adalah sesuatu yang tidak tergadai dengan apapun.
Pahamilah, mahal sesungguhnya itu bukan masalah harga. Sangat tidak berkaitan dengan Rupiah, Dollar, dsb.
Pahamilah, mahal sesungguhnya itu adalah sesuatu yang tidak bisa terbayar dengan UANG, tidak tergadai oleh apapun, tidak bisa ditawar-tawar, apalagi menunggu diskon hari raya. Ohh tidak, jika hari ini mahal, sampai seterusnya akan mahal, bahkan jadi lebih mahal, soalnya tidak pakai istilah ketinggalan zaman, yah itulah mahal sesungguhnya.
Pahamilah!!! :)
Pahamilah!
Mungkin Anda pernah berkunjung ke pusat perbelanjaan. Kurasa iya.
Ssssssttt...
Eh, ternyata, sesuatu yang diobral itu belum tentu dikerumuni orang loh.
Eh, ternyata, barang yang diskon besar-besaran itu belum tentu banyak yang melirik loh.
Eh, ternyata, pun barang-barang di dalam kotak kaca dengan harga selangit, biasa aja, orang hanya lewat, mondar-mandir, mereka tidak tertarik. Yah begitu...
Lalu kok bisa gitu yah?
Banyak orang (mungkin saja Anda) berpemahaman seperti ini, sesuatu yang harganya murah itu yah pasti barang murahan. Lalu sesuatu yang kinclong dengan harga mencekik leher, katanya itu mahal, dan itulah yang keren.
Jika itu barang murahan, ogah banget untuk berebut. Jika barang mahal, wah, sekk sekk, minggir-minggir, mau beli tapi tidak punya duit. Lah, sama saja, enggan mendekat, enggan melirik.
Aduh, pemahamanmu salah kawan. Pahamilah, sesungguhnya sesuatu yang WAH itu adalah sesuatu yang tak "berharga", tidak berdiskon, tidak pula diobral.
Mahal sesungguhnya itu bukan sesuatu yang harganya mencakar langit.
Mahal sesungguhnya itu bukan sesuatu yang bertengger dilemari kaca anti pembobolan.
Mahal sesungguhnya itu adalah sesuatu yang tidak terbeli dengan UANG. Jika ada sesuatu yang katanya harga selangit, tapi bisa dibeli dengan UANG, itu tidak mahal, toh ada yang mampu membayarnya, tentu bayar pake duit.
Mahal sesungguhnya itu adalah sesuatu yang tidak tergadai dengan apapun.
Pahamilah, mahal sesungguhnya itu bukan masalah harga. Sangat tidak berkaitan dengan Rupiah, Dollar, dsb.
Pahamilah, mahal sesungguhnya itu adalah sesuatu yang tidak bisa terbayar dengan UANG, tidak tergadai oleh apapun, tidak bisa ditawar-tawar, apalagi menunggu diskon hari raya. Ohh tidak, jika hari ini mahal, sampai seterusnya akan mahal, bahkan jadi lebih mahal, soalnya tidak pakai istilah ketinggalan zaman, yah itulah mahal sesungguhnya.
Pahamilah!!! :)
Sabtu, 07 Juni 2014
Hal dan Segalanya
Jika dulu erat terikat dengan simpuh, lalu kenapa sekarang terpisah. Jika dulu kuat saling menggenggam, lalu kenapa sekarang saling melepaskan. Aku paham keadaan tak lagi sama.
Jika dulu seperti piring dan gelas, kini tidak lagi, gelas pecah tersisa puing. Jika dulu seperti baju dan celana, kini tidak lagi, lebih memilih kedinginan tak berbalut kain. Aku paham keadaan tak lagi sama.
Dulu, setiap ingatan adalah kebahagiaan. Tapi sekarang, sejengkal ingatan adalah kesakitan. Dulu, setiap ucapan adalah kasih. Tapi sekarang, satu kata adalah kebohongan. Aku paham keadaan tak lagi sama.
Aku paham keadaan tak lagi sama, tapi apa Kau paham ada hal yang masih sama.
Hari ini, kata TIDAK bisa berarti IYA. Jika hari ini adalah hari kebalikan. Segalanya tidak lagi pada ruangnya, tidak lagi pada waktunya, tidak lagi pada tempatnya. Mungkin segalanya itu akan merasakan kebebasan meski dalam kebohongan.
Aku paham keadaan tak lagi sama. Dan sekarang Kau harus paham tentang hal yang masih sama. Jika, sekarang diisinkan berlaku hari kebalikan itu, segalanya akan berubah. Tapi ada hal yang harus Kau tahu diluar segalanya itu.
Yang ini bukan dari segala di atas. Aku paham kondisi tak lagi sama. Tapi, Kau harus paham, ada hal yang tak berubah, meski berlaku hari kebalikan. Karena hal itu bukan bagian dari segala yang bisa berubah.
Sekarang Kau harus paham. Keadaan belum tentu merubah perasaan. Kau harus paham, perasaan tidak berubah secepat keadaan.
Aku paham keadaan tak lagi sama, tapi perasaan itu masih sama. Dan sekarang Kau paham hal yang masih sama itu adalah perasaan.
Jurang dan Tameng
Jurang dan tameng, dua hal yang tak sama, tapi sering tak mampu dibedakan.
Jurang dan tameng, dua hal yang jelas berbeda, tapi hati sering tak sepaham dengan mata.
Jurang dan tameng, dua hal yang seharusnya nyata, tapi kenapa sering bias dan tak ada kejelasan.
Semua paham, jurang dan tameng bukan kabut, lalu kenapa keduanya membuat buram.
Semua paham, jurang dan tameng bukan malam, lalu kenapa keduanya bagai gelap yang mencekam.
Semua paham, jurang dan tameng bukan goa, lalu kenapa keduanya sering memantulkan tanya ini berulang-ulang.
Mungkin karena ada Kau, Kau ada di balik jurang itu, Kau ada di balik tameng itu. Lalu apa Kau adalah kabut? Apa Kau adalah malam? Apa Kau adalah goa? Jika bukan, kenapa Kau membuat buram sepanjang mata memandang, jika bukan kenapa Kau padamkan semua penerangan, jika bukan kenapa Kau lontarkan kembali setiap tanya yang mestinya Kau jawab.
Jika benar Kau yang ada di balik jurang, jika benar Kau yang ada di balik tameng. Keluarlah, beri kejelasan, agar tak lagi ada tanya. Jika benar Kau ada di sana. Muncullah, beri kepastian, agar tak lagi ada penantian.
Jika benar Kau ada di sana, berbaliklah, isinkan sosokmu nyata, agar tak lagi buram, tak lagi gelap, dan tak perlu lagi mengulang tanya.
Sebenarnya dimana Kau, seharusnya Kau hanya satu, tidak mungkin Kau ada di balik jurang, lalu, juga Kau di balik tameng. Tidak mungkin Kau mengisi dua tempat berbeda dalam helai waktu yang sama.
Dan Kau terus membangkang, mengacuhkan semua celotehku. Apa Kau tuli? Apa Kau Bisu? Apa Kau buta? Apakah Kau yang di balik sana bukan "Kau" yang Aku maksud sebenarnya.
Di sini, Aku Ingin Berbicara dari Hati
Apa makna dari ucapan? Terkadang mulut berucap, tapi tak sejalan dengan hati.
Apa makna dari yang terdengar? Terkadang telinga mendengar, tapi tak sepaham dengan pikiran.
Aku ingin bicara dari hati, dan Aku ingin Kau mendengar dengan menyertakan akal.
Di sini, Aku ingin berbicara dari hati. Tentang mimpi yang tak terhenti, meski harus rela mati. Tentang asa yang tak padam, meski berlabuh bersama ganasnya malam. Tentang harap yang tak putus, meski harus berulang diretas. Tentang do'a yang tak lelah, meski tak tahu kapan akan diijabah.
Di sini, Aku ingin berbicara dari hati. Di tempat dulu kita berdiri, berpijak di atas batu yang sama. Di tempat dulu kita berdiri dan menghirup udara yang sama. Di tempat dulu kita berdiri dan memandang langit yang sama.
Di sini, Aku ingin berbicara dari hati.
Ke sini, Aku ingin bercerita tentang hati.
Sebuah rahasia besar dari negeri antah berantah. Rahasia yang tidak lagi dirahasiakan. Maka dengarlah, hatimu itu adalah tubuhmu yang sering Kau bohongi, amat sering. Hatimu itu adalah tubuhmu yang paling sakit, amat sakit. Hatimu itu adalah tubuhmu yang hampir Kau bunuh, sedikit lagi.
Sampai kapan Kau terus berucap penuh dusta?
Sampai kapan Kau terus mendengar ucapan para pembual?
Cukupkan sampai disini. Kau punya akal dan punya hati. Jangan sia-siakan nikmat Tuhan.
Jika Kau sudah paham, jika Kau sudah temukan makna. Maka datanglah padaku, katakan, katakan, selama ini Kau telah salah membohongi dirimu, Kau telah salah membodohi dirimu.
Maka datanglah padaku, di sini KITA akan berbicara dari hati dan mendengar dengan akal.
Selasa, 03 Juni 2014
Bekerja di Bawah Tekanan = Kerja Paksa???
Assalamualaykum wrwb. Salam sukses dan bahagia untuk kita semua. Ketidakpahaman ini, membuat saya menulis lagi, barangkali akan muncul jawaban-jawaban yang bisa dibenarkan, hehe. Mmm, ada hal yang saya tidak mengerti, tapi tetap saja terus saya lakukan, kadang sedikit dilakukan dengan rasa malas, rasa agak dipaksa, kadang juga kulakukan penuh tanggung jawab.
Begini loh kondisinya, banyak hal yang membuat saya ingin tetap disini, diam-diam saya menyimpan mimpi besar yang tidak seorangpun tahu. Mimpi itu, ehh, mungkin mimpi itu yang mengompori semangatku, belum berhasil ciut, disembur lagi agar membumbung tinggi. Tapi jujur ini perang batin, banyangkan ketika aku harus meninggalkan segudang kesibukkanku, entah itu dengan cara kabur, menghilang tanpa kabar, atau pamit baik-baik, semua pernah kulakukan. Yah, semua itu bentuk profesionalisme (ngeeekkk), bahkan harus titip tas, sok isin ke toilet, ehh nyata-nyata aku lenyap dari kawasan yang menjadi tempat kugantungkan cita-cita mulia. Aduh, rasa-rasanya kalimatku mulai lebay, ini karena terbawa suasana perasaanku, sedih sekali rasanya jika harus mengorbankan yang satu ini, tapi lagi-lagi katanya ini demi profesionalisme. Aku muak, muak bekerja dengan kondisi seperti ini, tapi entah kenapa masih terus kulanjutkan. Jawabannya, haha, Anda penasaran? Sama, Aku juga.
Aku tidak senang, sangat tidak senang mendengar ucapan mereka yang seenaknya saja, dan kurasa itu tidak masuk akal, banyak yang dihiperbolakan, banyak yang teksnya terlalu kasar. Kami dikiranya apa? Wah, hebat sekali jika kami itu bisa berada di 2 tempat sekali gus.
Satu lagi, kehidupan disana jelas sekali pilih kasih. Selamat kepada Anda yang mendapatkan posisi baik dan nyaman. :) tapi sayangnya tidak dengan Aku. :'(
Jumat, 23 Mei 2014
Jualan Omong Kosong
Assalamualaykum wrwb. Keselamatan bagimu, bagiku, bagi kita semua. Aamiin, Allahumma aamiin.
Telinga ini mulai pekak, suara bising semakin bising, seperti suara pesawat tempur bercampur letupan bom nuklir, ditambah lagi dentuman peluru yang keluar dari moncong senapan laras panjang. Eiit, jangan merinding begitu, itu hanya pembawaan bahasa saja, hehe. Tapi, ada yang lebih mengerikan dari itu, iya ada. Sini aku beri tahu, mendekatlah. Apakah Kau lihat kesibukan orang-orang sekarang??? Yah, orang-orang akan berpesta besar, bukan dalam sebuah gedung, bukan di sebuah lapangan besar, pun bukan di sebuah pantai. Ini pesta besar, wajarlah kalau heboh dan mengguncang kita semua seperti ini. Hampir seluruh telinga kuat terpahat, menyimak detail kalimat, tak ingin ada yang terlewat. Hampir seluruh mata melotot menyaksikan setiap perkembangannya, sibuk mengomentari sana sini.
Ingat pesan ini, "Tidak semua yang Kau dengar adalah benar, tidak semua yang Kau lihat adalah nyata. Buka matamu lebar-lebar, pasang telingamu baik-baik."
Wah, jadilah saksi yang baik bagi pesta besar ini, jangan sampai Kau jadi korban. Ku beri tahu Kau rahasia yang tidak lagi dirahasiakan. Orang-orang sekarang sedang sibuk berjualan omong kosong, hampir setiap saat layar media dihias wajah-wajah pembohong, sedikit saja Kau salah menyimak, duarr, bisa-bisa Kau melempem. Yah, baik-baiklah melihat kenyataan, cerdas-cerdaslah mendengar ucapan para pembual. Hei, sekarang itu banyak sekali orang-orang menjajakan omong kosong, tidak peduli waktu dan tempat, semua kesempatan diembat. Hebatnya tidak sedikit orang yang kemudian jadi percaya, percaya dan ikut, mereka ikut berjualan omong kosong. Anehnya, omong kosong itu laris manis, mereka yang dikenal cerdas pun berhasil dirangkul menjadi generasi penjual omong kosong. Aduh, situasi memanas, dengan sedikit kata indah penuh omong kosong, yang benar bisa jadi salah, yang salah dipuja sebagai kebenaran. Sang penjaja omong kosong, pongah tertawa, berpikir keras, berjuang gigih, sampai titik omong kosong penghabisan. Disini ada pertarungan, pertarungan sengit dalam sebuah pesta besar, yang menang akan jadi raja selama 5 tahun, memegang kemudi, menjadi penentu kemana layar akan berlabuh. Pakailah matamu untuk melihat, pakailah telingamu untuk mendengar, tapi jangan lupa ikut sertakan hatimu memilih. Jadilah pemilih yang cerdas :) hehe, selamat berpesta demokrasi.
Kamis, 22 Mei 2014
Mencari Mangnet yang BAIK
Assalamualaykum wr wb.
Halo, apa kabar? Kuharap kabar baik melengkapi harimu, dimanapun itu. :) hehe, aamiin.
Aku sering miris dengan kondisi yang banyak kutemui tiap hari. Aku tidak mengerti kenapa ada manusia yang berduit tebal, ada juga orang-orang yang berpeluh keringat tapi hanya dapat sepeser rupiah. Aku tidak mengerti kurang kerja keras apa mereka??? Aku tidak paham arti kata adil saat mataku menyaksikan kenyataan sekarang. Tiba-tiba teringat potongan kalimat dari Bapak Dahlan Iskan, kira-kira seperti ini, "Dulu orang miskin itu biasa-biasa saja, toh semua orang miskin. Tapi kemiskinan yang sekarang itu menakutkan, mereka miskin tapi yang dilihat adalah kehidupan mewah."
Kalau dicermati, itu ketakutan yang amat menakutkan. Kesenjangan terlampau jauh kawan, mereka yang miskin teramat miskin, mereka yang kaya sungguh teramat kaya. Tak adakah dua kutub magnet yang berbeda muatan tepat ditengah-tengahnya, berharap menjadi perekat yang baik. Hei kawan, kurasa magnet itu ada, yah ada, sayang kutubnya bermuatan sama. Aahhh, itu mengecewakan.
Mereka yang miskin itu berteriak kencang-kencang, tapi tidak didengar oleh mereka yang kaya, maklum mereka sedang karaoke keluarga, sedang ada rapat paripurna di ruang tertutup, sedang tidur lelap di hotel berbintang. Besok-besok, aku tidak tahu akan sejauh apa jarak antar Si Miskin dan Si Kaya? Mungkin akan sejauh kutub utara dan kutub selatan, bermusuhan, terus bersembunyi ditempatnya masing-masing tidak akan mendekat, tidak akan. Jangan, kumohon jangan biarkan itu terjadi, bangsa kita bukan dua kutub yang tak bisa bersatu. Akan kutemukan magnet perekat yang BAIK itu, akan kucari, katanya magnet itu ada di tengah-tengah kita. Dimana, dimana, dimana, aku tidak menemukannya, tapi tenang akan terus kucari. Tunggulah, magnet yang kita cari sedang berjuang, menantikan tangan-tangan ikhlas kita pada tanggal 09 Juli 2014. Hehee :) ;) :D
Rabu, 21 Mei 2014
Idealis Penyelaras (saya tipe kepribadian)
Idealis Penyelaras
Tipe Idealis Penyelaras dikenali dari kepribadiannya yang kompleks dan memiliki begitu banyak pemikiran dan perasaan. Mereka orang-orang yang pada dasarnya bersifat hangat dan penuh pengertian. Tipe Idealis Penyelaras berharap banyak pada diri mereka sendiri dan orang lain. Mereka memiliki pemahaman yang kuat tentang sifat-sifat manusia dan seringnya menilai karakter dengan sangat baik. Namun mereka lebih sering menyimpan perasaan dan hanya mencurahkan pemikiran serta perasaan mereka kepada sedikit orang yang mereka percaya. Mereka sangat terluka jika ditolak atau dikritik. Tipe Idealis Penyelaras menganggap konflik sebagai situasi yang tidak menyenangkan dan lebih menyukai hubungan harmonis. Namun demikian, jika pencapaian sebuah target tertentu sangat penting bagi mereka, mereka dapat dengan berani mengerahkan seluruh tekad mereka hingga cenderung keras kepala.
Tipe Idealis Penyelaras memiliki fantasi yang hidup, intuisi yang nyaris seperti mampu membaca masa depan, dan seringkali sangat kreatif. Begitu berkutat dengan sebuah proyek, mereka melakukan segala daya upaya untuk mencapai tujuan-tujuan mereka. Dalam kehidupan sehari-hari, mereka sering membuktikan diri sebagai pemecah masalah ulung. Mereka suka mendalami hingga ke akar permasalahan dan memiliki sifat ingin tahu alamiah serta haus akan pengetahuan. Pada saat bersamaan, mereka berorientasi praktis, terorganisir dengan baik, dan siap menangani situasi-situasi rumit dengan cara terstruktur dan pertimbangan matang. Ketika mereka berkonsentrasi pada sesuatu, mereka melakukannya dengan seratus persen – mereka sering begitu terbenam dalam sebuah pekerjaan sehingga melupakan hal lain di sekitar mereka. Itulah rahasia kesuksesan profesional mereka yang seringkali gilang gemilang.
Sebagai pasangan, tipe Idealis Penyelaras setia dan dapat diandalkan; hubungan permanen sangat penting bagi mereka. Mereka jarang jatuh cinta hingga mabuk kepayang dan juga tidak menyukai hubungan-hubungan asmara singkat. Kadang-kadang mereka sulit menunjukkan rasa sayang mereka dengan jelas sekalipun perasaan mereka dalam dan tulus. Dalam hal lingkaran pertemanan, semboyan mereka adalah: sedikit berarti lebih banyak! Sejauh menyangkut kenalan baru, mereka hanya dapat didekati hingga jarak tertentu; mereka lebih suka mencurahkan tenaga ke dalam pertemanan akrab yang jumlahnya sedikit. Tuntutan mereka kepada teman dan pasangan mereka sangat tinggi. Karena mereka tidak menyukai konflik, mereka akan diam sejenak sebelum menyuarakan masalah-masalah yang tidak memuaskan dan, ketika melakukannya, mereka berusaha sangat keras untuk tidak menyakiti siapa pun karenanya.
Selasa, 20 Mei 2014
Tanpa Judul
Assalamualaykum wrwb. Salam hangat di malam yang dingin di tengah rinai hujan.
Anda, Anda adalah orang yang dikenal baik, berwibawa, kreatif, pekerja keras, cerdas, dan banyak lagi (tidak bisa dituliskan satu per satu, bisa panjang ceritanya, hehe). Bangga bisa bertemu dan kenal dengan Anda.
Tapi sayang sekali, baru saja Anda mematahkan semua julukan dan istilah-istilah baik untuk Anda barusan. Ini bukan MARAH, hanya KECEWA. Dan rasanya tidak puas jika ini hanya ditulis di buku harian, atau hanya sekedar ditulis di blog yang sama sekali tak sepotong manusia pun mengunjunginya.
Biarlah Anda membaca, sama sekali tidak bermaksud mengibarkan bendera perang, tidak bermaksud menyalahkan, karena mungkin ada alasan untuk semua ini yang kami atau Saya tidak tahu. Apapun itu, sangat berharap hal seperti ini tidak terulang lagi. Saya tidak keberatan, jika ini hanya sekali saja (dimaklumi), tapi ini sudah berkali-kali (dalam hitungan saya, mungkin hitungan Anda berbeda).
Saya masih sangat menghormati Anda. Dan Saya sangat paham posisi, hak, dan kewajiban Saya.
Dengan sangat menyadari Saya jauh dari kata baik, tapi setidaknya kita saling menghargai untuk sama-sama saling memBAIKkan.
Sekali lagi, Saya masih sangat menghargai Anda. Maafkan Saya atas tulisan ini.
Kamis, 01 Mei 2014
Selama ini, SIBUK ngapain?
Assalamualaykum wr wb. Halo, apa kabar? Semoga tetap selalu dalam lingkaran cahaya iman dan lindundanNya. Aku mau cerita tentang seseorang (sssst, jangan cie cie). Kau tahu aku baru menyadarinya semalam tadi, aku menyimak wajahnya dengan seksama. Ya Allah, selama ini aku sibuk apa? Aku tidak mampu mengingat wajahnya 10 tahun lalu. Aku terus menyimaknya berulang-ulang, tapi semua kulakukan diam-diam, astaga, aku melewatkan banyak hal tentangnya, apa selama ini aku terlalu abai, sampai-sampai tidak sempat memerhatikannya. Aku melewatkan puluhan tahun, tapi entah berapa hari, berapa jam, berapa menit aku menyisihkan waktu untuk bersamanya, menunggu fajar terbit dari ufuk timur mendayung pelan sampai menyelinap ke kaki bukit di ufuk barat. Atau jangan-jangan kebersamaan itu hanya hitungan detik. Yah, wajahnya lesuh, terlihat sekali banyak beban yang menggantung di kedua matanya. Tapi sungguh, dia tidak pernah mengatakan sudah lelah merawat,sudah lelah menjagaku, tidak pernah ada kata itu. Beliau masih yang dulu, masih menganggapku anak kecil yang selalu butuh dirinya, memang seperti itu.
I love you MOM.
Rabu, 16 April 2014
Permak Sedikit Saja
Assalamualaykum wrwb. Insya Allah ini akan menjadi tulisan ke3 saja di blog ini. Blog yang mungkin tidak pernah muncul di mesin pencari. Blog yang mungkin tidak pernah Anda temukan, apalagi Anda baca. Tapi, tidak apalah, setidaknya masih ada Aku yang hari ini, besok, besok, dan besok lagi selalu siap untuk mengunjungi lagi, lagi dan lagi blog ini. Sekali lagi tidak apalah, mungkin saja Aku, Anda, atau Kita akan menemukan manfaat besar di sini, melalui blog ini. Aamiin :)
Eh, Anda pernah mendengar kata permak? Kurasa pernah, tapi apa Anda tahu arti kata permak? Mungkin Anda sudah tahu, atau sangat tahu, tapi mungkin saja tidak. Jadi tidak salah juga jika Aku menyertakan sedikit arti kata permak itu. Menurut KBBI : "per·mak v cak, me·mer·mak v 1 merombak (agar dapat dimanfaatkan kembali, msl pakaian); 2 mengubah dr bentuk atau keadaan asli menjadi bentuk baru."
Yah, kira-kira begitulah. Jika Anda punya pakaian yang ukurannya tidak sesuai tubuh Anda, bisa saja pakaian itu merusak gaya Anda, mungkin lengannya kepanjangan, atau terlalu pendek, atau ukurannya terlalu besar, atau terlalu panjang, atau segala macam hal yang pernah Anda alami (silakan pikirkan sendiri).
Sungguh, jika kondisinya seperti itu, dan Anda harus menggunakan pakaian itu dengan segala ketidakpasan di tubuh Anda, yakin saja, sepanjang perjalanan Anda seakan dihantui, takut orang-orang memperhatikan Anda, takut Anda ditertawakan, takut menjadi jelek di depan banyak orang, atau banyak kemungkinan lainnya. Yah, sedikit saja yang tidak cocok di pakaian Anda, bisa seribu masalah yang bisa terjadi pada Anda. Mungkin begitulah "hati", ada salah sedikit saja, bisa fatal akibatnya. Mungkin itu hatiku, atau bisa juga hati Anda.
Kau (untuk lebih mengakrabkan kita, tidak ada maksud berlaku atau berkata kasar), kau tahu, sering sekali hati kita itu dipaksa memahami dengan pemahaman yang salah, pemahaman itu melekat, besok-besok itulah yang dipahami sebagai kebenaran. Tapi teman, cepatlah kau permak sedikit saja pemahaman tentang hatimu, jangan kau coba tanyakan pada orang lain, karena pemahamannya mungkin saja tidak cocok dengan hatimu, seperti kalau kau meminjam pakaian orang lain, jelas besar kemungkinannya tidak pas melekat di badanmu, jika munjur mungkin saja pas dan cocok di badanmu, tapi bagaimana jika ada orang yang mengenalimu dan tahu itu baju pinjaman, aduh akan banyak masalah untuk itu. Yah, hatimu juga demikian teman, jangan pakai pemahaman hati orang lain untuk hatimu, karena susah mencari yang benar-benar pas untuk hatimu. Berpikirlah, beri sedikit waktu perasaan dan pikiranmu bekerja sama dengan tenang, beri mereka waktu untuk menemukan pemahaman terbaik itu. Seperti pakaian yang mungkin kebesaran, jika dipermak sedikit saja, aduhai, Kau akan tampak cantik dengan pakaian itu, pakaian yang sesuai dengan badanmu, tepat, pas, tidak kebesaran tidak pula kekecilan, tidak kepanjangan apalagi kependekan, Kau laksana putri cantik dengan gaun yang indah. Yah, lagi-lagi begitulah hati, Kau permak sedikit saja pemahamanmu tentang hatimu, mungkin kau akan lebih bahagia, lebih cerah, kau akan tampak lebih cantik karena Kau selau tersenyum, karena hatimu menemukan pemahaman baik itu. Kuharap Kau mengerti maksudku, tidak perlu kujelaskan terlalu dalam, aku memberi kesempatan untuk Kau sedikit berpikir teman, mungkin Kau bisa menemukan pemahaman yang lebih hebat. :)
Senin, 14 April 2014
Lantas Harus Bagaimana?
Assalamualaykum wr wb. Apa kabar? Alhamdulillah Aku baik, cukup baik, kuharap dirimu juga demikian.
Pernah mendengar kalimat ini?
"Bila Anda senantiasa jujur, mungkin saja akan ada orang yang menipu Anda.
Bila Anda baik hati, mungkin saja orang lain menilai Anda pamrih.
Bila Anda sukses, banyak teman yang akan Anda dapat, tapi banyak di antara mereka itu palsu. Tapi bagaimanapun tetaplah berusaha sukses dan jadilah teman yang baik.
Jika hari ini Anda berbuat baik, mungkin saja kebaikan itu akan dilupakan orang. Tapi bagaimanapun tetaplah melakukan kebaikan.
Karena, semua itu adalah urusanmu dengan Tuhanmu, tidak perlu pengakuan manusia manapun."
Kurang lebih kalimatnya seperti itu, yah itu betul, saya rasa Anda pun sepakat bahwa kalimat di atas tepat. Tapi bagaimana dengan hati??? Maksudku tentang cinta. Bagaimana dengan cinta kita pada si dia? Kuharap kau mengerti kalimatku, hehe. Mungkin kau pernah berada pada posisi seperti ini. Bagaimana jika Aku mencintai orang yang sama sekali tidak mencintaiku???( Aku = tokoh dalam cerita ini, bukan penulis). Tapi ini bukan sekedar cinta, heiiiii, cinta itu dalam sekali. Haruskah kutambahkan kalimat seperti ini, "Bila Anda mencintai seseorang, mungkin saja seseorang itu tidak mencintai Anda, tapi bagaimanapun itu tetaplah mencintainya."
Aku menulis kalimat itu saja berat, lalu bagaimana jika itu sungguh terjadi. Kurasa itu amat sangat menyesakkan :(.
Apakah Aku (Aku = tokoh dalam cerita ini, bukan penulis) harus bertahan, bertahan dengan besarnya cinta yang kupunya, menunggu dia sedikit memberi celah pada hatinya untuk bisa membalas perasaan ini, tapi Aku harus menunggu sampai waktu yang tidak ditentukan. Huh, haruskah seperti itu? Jika Aku adalah tokoh sungguhan dalam cerita ini, Aku tidak akan bertahan mencintai dia yang tidak mencintaiku. Permak saja kalimatnya jadi seperti ini, (tapi jangan lupa permak hatimu juga :D).
"Bila Anda mencintai seseorang, mungkin saja seseorang itu tidak mencintai Anda. Tapi tetaplah mencintai, tapi bukan dia, bukan dia yang tidak mencintai Anda. Jika Anda sudah tahu dia tidak mencintai Anda, berhentilah mencintainya, berbaliklah, cari dia (orang lain) yang lebih pantas untuk Anda cintai."
Untuk apa kita harus menghabiskan banyak waktu untuk dia yang sama sekali tidak mau meluangkan waktu untuk kita. Untuk apa Anda menunggu orang sama sekali tidak ingin ditunggu. Sudahlah, jangan terlalu tega dengan dirimu sendiri, amat kasihan jika dirimu harus lumutan, karatan, dan rapuh di tempat yang di situ situ saja, mengharap hati yang itu-itu lagi, menunggu dia yang begitu-begitu saja, sampai Kau tak mampu melihat ada cinta yang lebih indah, menyambutmu penuh kasih. Cinta yang mampu memuliakanmu, cinta yang bersamanya Kau akan berbahagia. :) Semoga bisa mengambil banyak kebaikan dari cerita ini :)
Minggu, 13 April 2014
Catatan HarianKu 28 Maret 2014
Ini isi dari catatan harianku, kurasa memang tidak penting. Tapi lagi lagi ini tentang perasaan, tiba-tiba saja aku ingin melakukannya.
Ini seperti mengulang masa lalu, mengulang kembali masa-masa lampau itu, kemudian dirangkai dalam kalimat. Keinginan itu muncul, mendebatku dengan perangai kasar. Sepertinya di kepalaku ada setumpuk kata, kalimat, bait, tapi berserakan, berantakan, sempurna terberai dalam folder-folder memoriku. Kau tahu di kepalaku terjadi tabrakan hebat, haha, antara bayang masa lalu dan harapan masa depan, antara kegagalan dan antusias untuk berhasil, antara tangis dan cengar cengir kebahagiaan. Tiba-tiba saja ada kereta kecil yang melintas dipikiranku,kereta yang bertuliskan IKHLAS, aku tidak mengerti kenapa kata itu yang muncul. Heii, selama ini apakah aku pernah belajar Ikhlas? Eh, maksudku mempelajari Ikhlas seperti kita belajar membaca, seperti dulu waktu kita diajar menulis huruf demi huruf, kata demi kata, sampai akhirnya lihai menulis puisi untuk ibu, berkirim surat untuk teman sebangku. Haha, spontan saja aku nyegir lebar, entah apanya yang lucu. Yang kupikirkan sekarang kenapa tidak ada saja orang dengan penuh ikhlas membuka kursus Ikhlas, atau sekalian membuka tempat bimbingan belajar Ikhlas? Aku rasa itu ide yang keren, pasti orang-orang akan berdatangan mendaftar ikut kursus atau bimbingan, termasuk aku, mungkin saja aku akan jadi pendaftar pertama. Sungguh aku banyak tidak mengerti tentang ikhlas itu, mudah saja mengatakan, "Sudah ikhlaskan saja!" tapi kurasa ada hal yang sangat sulit dari Ikhlas. Mungkin kau sependapat denganku, tapi mungkin saja kau berteriak kencang menantangku ketika membaca tulisan ini. :) tersenyumlah, mungkin itu cara termudah untuk memulai belajar ikhlas. :)